Analisis Tes


A. Pengertian Tes
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Tes merupakan bagian tersempit dari penilaian. Menurut Djemari tes merupakan salah satu cara untuk menaksirkan besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan. Tes dapat juga diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkapkan aspek tertentu dari orang yang di kenai tes. Respons peserta tes terhadap sejumlah pertanyaan maupun pertanyaan menggambarkan kemampuan dalam bidang tertentu. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar yang bersifat hard skill (Widoyoko, 2015: 46).
B. Bentuk-bentuk Tes 
Bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dilihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif memberi pengertian bahwa siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes subjektif adalah tes yang penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Menurut (Widoyoko, 2015: 46) di antara subjektivitas yang dapat memengaruhi hasil penskoran hasil tes diantaranya adalah :
Ketidak konsistenan penilai (rater unreliability), kondisi penilai baik fisik maupun psikis akan mempunyai pengaruh terhadap scoring jawaban siswa.
Hallo effect, kesan guru terhadap siswa sebelumnya akan dapat memengaruhi skor hasil tes siswa.
Pengaruh urutan pemeriksaan (order effect), urutan pemeriksaan terhadap lembar jawaban siswa kadang-kadang dapat memengaruhi skor tes.
Pengaruh bentuk tulisan dan bahasa (mechanic and language effect), bentuk tulisan yang sulit dibaca guru dan penggunaan bahasa yang sulit dipahami oleh guru akan memengruhi terhadap skor yang diberikan.   

Tipe Pilihan Ganda (Multiple Choice Test)
Tes pilihan ganda adalah tes di mana setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari satu. Pada umunya jumlah alternated jawaban berkisar antara dua atau lima. Alternatif tersebut tidak boleh terlalu banyak. Bila alternatif lebih dari lima maka akan sangat membingungkan  peserta tes, dan juga akan sangat menyulitkan penyusunan butir soal (Widoyoko, 2015: 59).  
Menurtu Widoyoko (2015: 59) setiap tes pilihan ganda terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) pernyataan atau disebut juga stem, dan (2) alternatif pilihan jawaban atau disebut juga option. stem mungkin dalam bentuk pernyataan atau dapat juga dalam bentuk pertanyaan. Bila dalam bentuk pertanyaan, merupakan pertanyaan yang lengkap atau pernyataan yang tidak lengkap. Misalnya:
Contoh 1 
Stem atau pokok soal:
Dipulai Sumatra terdapat beberapa danau. Salah satu danau tersebut mempunyai cirri fisik yang berbeda dari danau lain, karena ditengahnya terdapat daratan luas berupa pulau. Danau manakah yang dimaksud ?
Pilihan Jawaban: a. Danau Ranau
b. Danau Maninjau
c. Danau Singkarak
d. Danau Toba *
e. Danau Laut Tawar
Dari contoh di atas stem atau pokok soal dapat terdiri dari pernyataan dan pertanyaan. Sedangkan pilihan jawaban (option) terdiri dari beberapa alternatif pilihan jawaban. Salah satu dari alternatif pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap pertanyaan. Dalam hal ini ditandai dengan asterisk (*). Jawaban tersebut dinamakan kunci jawaban. Alternatif  jawaban yang bukan kunci dinamakan pengecoh atau distractors. Jadi, dalam pilihan (option) ada pilihan yang bukan kunci.
Contoh 2
Stem atau pokok soal:
Litosfer adalah kerak bumi yang paling atas. Kandungan dari senyawa kimia yang terbanyak pada lapisan ini adalah ……………..
Pilihan jawaban: a. Oksida besi
b. Oksida alumunium
c. Oksida fosfor
d. Oksida kalsium
e. Oksida silicon*
Dari contoh 2 di atas stem atau pokok soal dapat terdiri dari pernyataan lengkap dan pernyataan tidak lenkap. Sedangkan pilihan jawaban (option) terdiri dari beberapa alternatif  pilihan jawaban. Salah satu dari alternatif pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap isian pernyataan. Dalam hal ini ditandai dengan asterisk (*).
Contoh di atas adalah pilihan ganda biasa. Selain seperti contoh di atas tipe tes pilihan ganda dapat dimodifikasi menjadi:
Pilihan Ganda Analisis Hubungan Antar-Hal
Pilihan ganda hubungan antar-hal terdiri dari dua pernyataan. Kedua pernyataan tersebut dihubungkan oleh kata ‘Sebab”. Jadi ada dua kemungkinan hubungan antara kedua pernyataan tersebut, yaitu ada hubungan sebab akibat atau tidak ada hubungan sebab akibat. Supaya kedua pernyataan ini termasuk pilihan ganda maka harus dicari variabel lain yang dapat mengukur kemampuan peserta tes. Variabel tersebut adalah kualitas pernyataan, yaitu apakah pernyataan pertama benar atau salah dan apakah penyataan kedua benar atau salah. Dengan adanya berbagai hal yang harus dinilai dari dua pernyataan tersebut maka dapatlah dkembangkan tes bentuk hubungan antar-hal dengan penyelesaian sebagai berikut:
Untuk butir soal berikut ini pilihlah:
Pernyataan benar, alasan benar, keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat.
Pernyataan benar, alasan benar, keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.
Pernyataan benar alasan salah.
Pernyataan salah alasan benar.
Pernyataan dan alasan salah.
Contoh:
Pada sistem ekonomi liberal persaingan merupakan suatu tatanan nilai yang baik untuk meningkatkan kualitas produksi.
SEBAB
Persaingan dapat menghasilkan produksi yang terbaik yang diterima masyarakat.
Pada contoh di atas pernyataan dan alasan benar. Keduanya menunjukkan hubungan sebab akibat, maka jawaban yang benar adalah (A).
Pilihan Ganda Analisis Kasus
Pada bentuk pilihn ganda analisis kasus peserta tes dihadapkan pada suatu kasus. Kasus ini disajikan dalam bentuk cerita, peristiwa dan sejenisnya. Kepada peserta tes diajukan beberapa pertanyaan. Setiap pertanyaan dibuat dalam bentuk melengkapi pilihan.
Bentuk tes analisis kasus menggunakan petunjuk berikut:
Untuk menjawab butir soal berikut ini disediakan kasus. Anda diminta memahaminya secara cermat, kemudian jawablah soal-soal berikutnya.
Contoh:
“Kadit Lantas Polda DIY Letkon Pol……….menjelaskan jumlah kecelakaan lalu lintas di DIY bulan januari-november 2008 sebanyak 7.090 kasus atau meningkat 4,87% dibandingkan tahun 2007 periode yang sama. Meningkatnya kecelakaan lalu lintas itu antara lain karena terhentinya Operasi Zebra menjadi operasi rutin lalu lintas. Dsamping itu pengguna jalan hanya disiplin jika ada petugas”.
Pertanyaan:
Meningkatnya kecelakaan lalu lintas di DIY bukan hanya disebabkan oleh terhentinya Operasi Zebra, tetapi juga disebabkan…………
Pengawas lalu lintas yang tidak pernah kendor.
Volume kendaraan di jalan makin bertambah.
Angkutan yang terlibat dalam pengaturan lalu lintas dikurangi jumlahnya.
Potensi polisi lalu lintas belum dikerahkan secara maksimal.
Dalam periode yang sama di tahun 2008 kasus kecelakaan di DIY meningkat 4,87% dibandingkan dengan tahun 2007. Dari data ini:
Dapat dibuat kesimpulan bahwa kecelakaan lebih banyak terjad pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2008.
Belum dapat dibuat kesimpulan tentang jumlah kecelakaan karena kasus kecelakaan bulan desember belum dilaporkan.
Sudah dapat dipastikan bahwa kasus kecelakaan selama tahun 2008 lebih banyak terjadi daripada tahun 2007.
Sudah dapat dipastikan bahwa kasus kecelakaan selama tahun 2008 lebih banyak terjadi daripada tahun 2007.
Tidak dapat dibuat generalisasi karena banyak kasus kecelakaan yang tidak dilaporkan yang bersangkutan kepada polisi lalu lintas.
Berdasarkan contoh di atas dapat dikatakan bahwa dari satu kasus dapat dibuat beberapa pertanyaan dan aspek berfikir yang diukur banyak pada proses berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.
Pilihan Ganda Asosiasi
Bentuk pilihan ganda asosiasi ini struktur soalnya sama dengan melengkapi pilihan. Perbedaanya adalah, opada melengkapi pilihan hanya ada satu jawaban yang benar atau paling benar, tetapi pada melengkapi berganda justru jawaban yang benar dapat lebih dari satu, mungkin2,3, atau 4. Jadi pada ragam melengkapi berganda diperbolehkan menuliskan keempat alternatif  pilihan sebagai jawaban yang benar, tidak ada pengecoh. Dengan kata lain jika semua alternatif  pilihan adalah benar, janganlah dimasukkan pada ragam melengkapi pilihan, tetapi harus dimasukkan ke dalam ragam melengkapi pilihan berganda.
Contoh: petunjuk pilihan :
Jika (1), (2), dan (3) betul
Jika (1), dan (3) betul
Jika (2), dan (4) betul
Jika hanya (4) yang betul
Jika semuanya betul.
Berikut ini adalah unsure-unsur pengeluaran rutin anggaran belanja Negara:
Belanja pegawai
Belanja barang
Pembayaran bunga utang
Pembiayaan pembangunan daerah.
Pilihan Ganda dengan Diagram, Grafik, Tabel dan Sebagainya 
Bentuk soal tes ini mirip analisis kasus, baik struktur maupun pola pertanyaanya. Bedanya dalam tes bentuk ini tidak disajikan kasus dalam bentuk cerita atau peristiwa, tetapi kasus tersebut berupa diagram, gambar, grafik maupun tabel.

Tes pilihan berganda dengan semua variasinya selalu dapat menggunakan diagram, grafik, gambar merupakan tabel, baik sebagai pokok soal, (stem) maupun sebagai alternatif pilihan. Biasanya butir soal yang menggunakan diagram, grafik, gambar dan tabel dapat mengukur aspek proses berfikir yang lebih tinggi dari aspek ingatan.
Kelebihan dan Kekurangan Tes Pilihan Ganda 
Kelebihan Tes Pilihan Ganda
Menurut Widoyoko (2015: 68) berikut adalah kelebihan tes pilihan ganda:
1. Butir soal pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur segala level tujuan pembelajaran dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, kecuali tujuan berupa kemampuan mendemonstrasikan, keterampilan menyatakan sesuatu secara ekspresif.
2. Butir soal pilihan ganda sebagai alat ukur dapat menggunakan jumlah butir soal yang relative banyak dank arena itu penarikan sampel pokokbahasan yang akan diujikan dapat lebih luas.
3. Penskoran hasil tes dapat dilakukan secara objektif.
4. Tipe butir soal dapat disusun sedemikian rupa sehingga menuntut kemampuan peserta tes untuk membedakan berbagai tingkat kebenaran sekaligus.
5. Jumlah pilihan yang disediakan melebihi dua.
6. Tipe butir soal pilihan ganda memungkinkan dilakukan analisis butir soal secara baik.
7. Tingkat kesukaran butir soal dapat diatur, dengan hanya mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban.
8. Informasi yang diberikan lebih kaya.
Kekurangan Tes Pilihan Ganda
Menurut Widoyoko (2015: 70) berikut adalah kekurangan tes pilihan ganda:
1. Relatif lebih sulit dalam penyusunan butir soal.
2. Ada kecenderungan bahwa guru menyusun butir soal tipe ini dengan hanya menguji atau mengukur aspek ingatan, atau aspek yang paling rendah dalam ranah kognitif.
3. Adanya pengaruh kebiasaan peserta tes terhadap tes bentuk pilihan ganda (testwise) terhadap hasil tes peserta.
Pedoman Penyusunan Tes Pilihan Ganda
Menurut Widoyoko (2015: 71) untuk menghasilkan butir soal pilihan ganda yang baik dalam penyusunan butir soal ini perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Inti permasalahan harus dicantumkan dalam rumusan pokok soal, sehingga dengan membaca pokok soal siswa sudah dapat menenukan jawaban sebelum dilanjutkan membaca pilihan jawaban.
2. Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam pilihan.
3. Hindari rumusan kata yang berlebihan.
4. Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata atau kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan, bukan di tengah-tengah kalimat.
5. Susunan alternative jawaban dibuat teratur dan sederhana.
6. Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar.
7. Hindari jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah.
8. Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar.
9. Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan jawaban.
10. Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bermakna tidak pasti, misalnya: kebanyakan, sering kali, kadang-kadang, dan sejenisnya.
11. Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif.
Cara pengolahan tes pilihan ganda 
Menurut  Widoyoko (2015: 66)  rumus untuk mencari skor dalam tes tipe pilihan ganda ada 2 macam:
sistem denda 
rumus skor dengan sistem denda adalah: 
Sk = B - S/(P-1)
Dengan ketentuan:
Sk : skor yang diperoleh peserta tes
B : jumlah jawaban yang benar
S : jumlah jawaban yang salah
P : banyaknya pilihan (option)
1 : bilangan tetap
Contoh: jumlah soal tes pilihan ganda = 20 butir soal. Pilihan jawaban sebanyak 5 buah. Kartika dapayt menjawab  dengan betul sejumlah 13 butir soal, jawaban yang salah berjumlah 4 butir soal dan 3 butir soal tidak dikerjakan. Maka skor kartika adalah:
Skor (Sk) = 13 - (4/(5-1)) = 12
Kelebihan sistem denda akan mengurangi kemungkinan peserta tes untuk berspekulasi (untun-untungan).
Sistem tanpa denda
Rumus skor dengan sistem tanpa denda adalah:
Sk = B
Dengan ketentuan:
Sk : Skor yang diperoleh peserta tes
B : jumlah jawaban yang benar
Contoh: apabila kartika dalam contoh (a) menggunakan sistem tanpa denda, maka kartika memperoleh skor = 13.
Tes Uraian (Esai)
Menurut Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution (dalam Widoyoko, 2015: 79) Tes bentuk uraian adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes. Jumlah butir soal dalam tes uraian biasanya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 butir soal dalam waktu kira-kira 90 s.d. 120 menit. 
Menurut Widoyoko (2015: 79) berdasarkan tingkat kebebasan peserta tes untuk menjawab soal tes uraian, secara umum tes uraian dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu: tes uraian bebas atau uraian terbuka (extended responde) dan tes uraian terbatas (restricted response).
Tes uraian bebas (extended response test), merupakan bentuk tes uraian yang memberi kebebasan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasannya dalam menjawab soal tes.
Contoh: jelaskan pengaruh paham nasionalisme di Eropa terhadap perkembangan nasionalisme di Asia dan Afrika!
Tes uraian terbatas (restricted response test), merupakan bentuk tes uraian yang memberi batasan-batasan atau rambu-rambu tertentu kepada peserta tes dalam menjawab soal tes.
Contoh: GBHN menentukan bahwa ada delapan pemerataan pembangunan. Sebutkan kedelapan jalur pemerataan pembangunan tersebut secara berurutan. Pilihlah salah satu yang saudara kuasai, definisikan artinya dan berilah tiga contoh pelaksanaanya dalam bidang ekonomi. Uraian saudara diharapkan tidak lebih dari satu halaman.
Ada beberapa ragam  tes uraian terbatas, antara lain raagam tes melengkapi dan ragam tes jawaban singkat.
Tipe jawaban melengkapi, yang dimaksudkan adalah butir soal yang memerintahkan kepada peserta tes untuk melengkapi kalimat dengan satu frasa, angka, atau satu formula. Contoh: bertambahnya ketinggian pada atmosfer bumi akan menurunkan temperatus udara di daerah………….
Tipe jawaban singkat, yang dimaksudkan adalah butir soal berbentuk pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata, satu frasa, satu angka atau satu formula. Contoh: berapakah jumlah provinsi di Indonesia ?
Pedoman Penyusunan Tes Uraian
Menurut Widoyoko (2015: 83), tes uraian yang baik bagi penyusun tes diharapkan memerhatikan hal-hal berikut:
Butir soal tes hendaknya meliputi ide-ide pokok dari materi yang diujikan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif yang mampu mewakili materi pokok dalam mata pelajaran yang diujikan.
Sebaiknya butir soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan.
Pada waktu menyusun butir soal sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penskorannya.
Hendaknya diusahakan pertanyaan bervariasi antara: jelaskan, mengapa, bagaimana, uraikan.
Hendaknya rumusan butir soal disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh peserta tes.
Kelebihan Tes Uraian
Menurut Widoyoko (2015: 84) berikut adalah kelebihan tes uraian:
Dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, seperti kemampuan mengaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasikan hubungan, kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih dan sebagainya.
Meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif.
Mudah disiapkan dan disusun, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi guru untuk mempersiapkannya.
Tidak banyak kesempatan untuk berspekulasiatau untung-untungan.
Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
Kekurangan Tes Uraian
Menurut Widoyoko (2015: 85) berikut adalah beberapa kekurangan tes uraian:
Reliabilitas rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes paralel diuji beberapa kali.
Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memeriksa lembar jawaban dan tidak dapat diwakilkan kepadaorang lain.
Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan.
Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling utama untuk membedakan prestasi belajar antara siswa.
Analisis soal bentuk uraian (esai)
Menurut Arifin (2014: 132) ada dua cara yang dapat dlakukan untuk menganalisis soal bentuk uraian. 
secara rasional, yang dilakukan sebelum tes itu digunakan seperti menggunakan kartu telaah.
Contoh:
Nomor soal: Perangkat:
No Aspek yang ditelaah Ya Tidak
A. Materi
1 soal sesuai dengan indikator  
2 batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas  
3 isi materi sesuai dengan tujuan tes  
4 isi materi sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, kelas  
B. Konstruksi
5 rumusan kalimat soal menggunakan kata yang menuntu jawaban terurai  
6 ada petunjuk yang jelas cara mengerjakan soal  
7 ada pedoman penskoran  
8 gambar, grafik, tabel, diagram disajikan dengan jelas  
C. Bahasa
9 rumusan kalimat sola komunikatif  
10 butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar  
11 tidak menggunakan bahasa local  
12 rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung siswa.  
  Catatan:  

secara empiris yaitu menganalisis hasil ujian atau hasil uji coba secara kualitatif.

Analisis Tes
Analisis Kualitas Tes
Menurut Arifin (2014: 246) analisis kualitas tes merupakan suatu tahap yang harus di tempuh untuk menegtahui derajat kualitas suatu tes, baik tes secara keseluruhan maupun butir soal yang menjadi bagian dari tes tersebut. Terdapat tiga karakteristik kualitas tes sebagai berikut:
Validitas, alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur itu dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur. Dengan kata lain validitas berkaitan dengan ketepatan dengan alat ukur. Tes sebagai salah satu alat ukur hasil belajar dapat dikatakan valid apabila tes itu dapat tepat mengukur hasil beljar yang hendak diukur. Dengan tes yang valid akan menghasilkan data hasil belajar yang valid pula. Ada beberapa macam validitas, yaitu:
Validitas permukaan, menggunakan kriteria sangat sederhana karena hanya melihat dari sisi muka atau tampang dari isntrumen itu sendiri. Artinya, jika suatu tes secara sepintas telah dianggap baik untuk mengungkapkan fenomena yang akan diukur, maka tes tersebut sudah dapat dikatakan memenuhi syarat validitas pemukaan, sehingga tidak perlu lagi adanya judgement yang mendalah.
Validitas isi, sering digunakan dalam penilaian hasil belajar, tujuan utamanya adalah untuk menegtahui sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan, perubahan-perubahan psikologis apa yang timbul pada diri peserta didik tersebut seelah mengalami proses pembelajaran tertentu.
Validitas empiris, biasanya menggunakan teknik statistik, yaitu analisis korelasi. Hal ini disebabkan validitas empiris mencari hubungan antara skor tes dengan suatu criteria tertentu yang merupakan suatu tolak ukur di luar tes yang bersangkutan.
Validitas konstruk, validitas konstruk berkenaan dengan pertanyaan hingga mana suatu tes betul-betul dapat mengobservasi dan mengukur fungsi psikologis yang merupakan deskripsi prilaku peserta didik yang akan diukur oleh tes tersebut.
Validitas faktor, dalam hal ini digunakan skala pengukuran tentang suatu variabel yang terdiri atas beberapa faktor. Criteria yang digunakan dalam validitas factor ini dapat diketahui dengan menghitung homogenitas skor setiap factor dengan total skor, dan antara skor dari factor yang satu dengan skor dari factor yang lain.  
Reliabilitas, kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap atau konsisten apabila diteskan berkali-kali. Reliabilitas berhubungan dengan ketetapan atau keajekan. Misal: jika keadaan A mula-mula berada lebih rendah dibandingkan dengan B, maka jika diadakan pengukuran ulang, si A tetap berada lebih rendah dari B. menurut perhitungan product-moment dari pearson, ada tiga macam reliabilitas, yaitu:
Koefisien stabilitas, adalah jenis reliabilitas yang menggunakan teknik test dan retest yaitu memeberikan tes kepada sekelompok individu, kemudian diadakan pengulangana tes pada kelompok yang sama dengan waktu yang berbeda.
Koefisien ekuivalen, adalah jka mengorelasikan dua buah tes yang paralel pada kelompok dan waktu yang sama. Metode yang digunakan untuk memperoleh koefisien ekuivalen adalah metode dengan menggunakan dua buah bentuk tes yang paralel.
Koefisien konsistensi internal, adalah reliabilitas yang didapat dengan jalan mengorelasikan dua buah tes dari kelompok yang sama, tetapi diambil dari butir-butir yang bernomor genap untuk tes yang pertama dan butir-butir ganjil untuk tes yang kedua.
Objektivitas, berarti tidak adanya unsure pribadi yang memengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subjektif yang memengaruhi, terutama dalam sistem skoringnya. Ada dua kemungkinan yang memengaruhi subjektivitas dari suatu tes, yaitu bentuk tes dan penilaian. Utnuk menghindari atau mengurangi kasuknya unsure subjektivitas dalam penilaian, maka penilaian harus dilaksanakan: secara kontinu, secara komprehensif, dan praktikabilitas.
Analisis Kualitas Butir Soal
Tingkat kesukaran soal, pengukuran seberapa besar serajat kesukaran suatu soal. Jika suatu soal memiliki tingkat kesukaran seimbang (proporsional), maka data dikatakan bahwa soal tersebut baik. Suatu soal tes hendaknya tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah (Arifin, 2014: 266)
Daya pembeda, adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta ddik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belumkurang menguasai kompetensi berdasarkan criteria tertentu.

DAFTAR  PUSTAKA

Arifin. Z (2014) Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Widoyoko. E. P (2015) Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BENTUK HIPOTESIS

Bentuk-bentuk Hipotesis Menurut Sugiyono (2016: 100-104) dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka rumusan  masalah penelitian ada tiga yaitu...